Ngaji Bandongan Ba’da Ashar

Di Pondok Pesantren Al Khidliriyah, pengajian kitab menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari para santri. Salah satunya adalah tradisi ngaji bandongan yang dilaksanakan setiap ba’da Ashar dan dibimbing langsung oleh guru kami, Al Habib KH. Muhammad Ibnu Abbas Alaydrus.
Melalui pengajian ini, para santri mempelajari kitab-kitab keislaman dengan menyimak bacaan dan penjelasan yang disampaikan oleh guru. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses belajar di pesantren, tempat santri tidak hanya memperdalam pengetahuan agama, tetapi juga membiasakan diri untuk tekun belajar dan menjaga adab di majelis ilmu.
Di antara kitab yang dikaji dalam pengajian bandongan ini adalah Ta’lim al-Muta’allim, Minhajul ‘Abidin, Nasihud Diniyah, dan Irsyadul ‘Ibad. Kitab-kitab tersebut dipelajari sesuai dengan jadwal dan materi pengajian masing-masing, bukan dibahas sekaligus dalam satu pertemuan. Selain itu, masih ada kitab dan materi keagamaan lain yang menjadi bagian dari pembelajaran di pesantren.
Mengenal Tradisi Ngaji Bandongan
Bandongan merupakan salah satu metode pembelajaran yang telah lama dikenal di lingkungan pesantren. Dalam metode ini, guru membacakan dan menjelaskan isi kitab, sedangkan para santri menyimak kitab masing-masing serta mencatat makna atau keterangan yang dianggap penting.
Cara belajar ini memberi kesempatan kepada santri untuk mengikuti penjelasan secara langsung. Ketika ada istilah atau pembahasan yang belum dipahami, santri dapat mendalami kembali materi tersebut melalui pengulangan pelajaran dan bimbingan guru.
Belajar kitab tidak selalu cukup dengan membaca teks atau terjemahannya. Ada susunan bahasa, istilah, dan maksud pembahasan yang memerlukan penjelasan agar dapat dipahami dengan baik. Karena itu, keberadaan guru memiliki peran penting dalam proses pembelajaran kitab.
Dalam pengajian bandongan, santri juga belajar menjaga perhatian, mengikuti bacaan dengan tertib, mencatat pelajaran, dan menghormati suasana majelis ilmu. Kebiasaan-kebiasaan tersebut menjadi bagian dari proses belajar yang dijalani secara berulang.
Pengajian Rutin Setiap Ba’da Ashar
Waktu ba’da Ashar menjadi salah satu bagian dari rutinitas pengajian di Pondok Pesantren Al Khidliriyah. Para santri mengikuti kegiatan ini untuk mempelajari materi yang disampaikan langsung oleh guru mereka.
Pengajian dilaksanakan secara bertahap. Kitab yang dikaji pada suatu kesempatan mengikuti jadwal dan pembahasan yang sedang berlangsung. Dengan demikian, setiap kitab memiliki ruang pembelajaran tersendiri sesuai dengan pelaksanaannya.
Rutinitas ini mengajarkan bahwa menuntut ilmu membutuhkan kesungguhan dan kesinambungan. Pemahaman tidak selalu diperoleh dalam satu kali pertemuan. Ada pelajaran yang perlu disimak berulang kali, dicatat, dan dipelajari kembali agar semakin jelas.
Melalui pengajian yang teratur, santri dibiasakan untuk menyediakan waktu bagi ilmu dan mengikuti proses pembelajaran dengan sungguh-sungguh. Mereka juga belajar bahwa memahami agama merupakan proses yang membutuhkan kesabaran serta bimbingan.
Beberapa Kitab yang Dikaji
Kitab-kitab yang dipelajari dalam tradisi bandongan memiliki pembahasan yang beragam. Masing-masing memberikan kesempatan kepada santri untuk memperluas pemahaman keislaman melalui materi yang dijelaskan oleh guru.
Ta’lim al-Muta’allim
Ta’lim al-Muta’allim karya Syekh Burhanuddin Az-Zarnuji dikenal sebagai kitab yang membahas adab dan tata cara menuntut ilmu. Di dalamnya terdapat pembahasan mengenai niat, kesungguhan belajar, penghormatan terhadap ilmu dan guru, serta sikap yang perlu dijaga oleh seorang penuntut ilmu.
Pelajaran dari kitab ini dekat dengan kehidupan santri sehari-hari. Belajar bukan hanya tentang membaca, menghafal, atau memahami materi, tetapi juga tentang membangun kebiasaan yang baik selama proses menuntut ilmu.
Kesungguhan, kesabaran, kedisiplinan, dan adab menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan. Ilmu diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi turut membentuk cara seseorang bersikap dan menjalani kehidupannya.
Minhajul ‘Abidin
Minhajul ‘Abidin karya Imam Al-Ghazali membahas perjalanan seorang hamba dalam beribadah kepada Allah serta berbagai tantangan yang dihadapi dalam upaya memperbaiki diri.
Kajian kitab ini berkaitan dengan kesungguhan dalam beribadah, usaha menjaga ketaatan, dan perjuangan menghadapi berbagai kelemahan diri. Proses memperbaiki diri memerlukan kesabaran dan usaha yang terus dilakukan.
Melalui pembelajaran kitab ini, santri memperoleh kesempatan untuk memperdalam pemahaman tentang pentingnya menjaga ibadah dan membangun kebiasaan yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Nasihud Diniyah
Nasihud Diniyah juga termasuk di antara kitab yang dikaji dalam pengajian bandongan. Melalui kajian kitab, santri menyimak penjelasan guru dan mempelajari materi keagamaan yang dibahas dalam pengajian.
Nasihat memiliki tempat penting dalam proses pendidikan. Nasihat mengingatkan seseorang untuk memeriksa kembali sikap dan perilakunya, menerima arahan, serta berusaha memperbaiki kekurangan.
Dalam kehidupan pesantren, kesediaan menerima nasihat menjadi bagian dari proses belajar. Santri tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga dibiasakan untuk terus memperbaiki diri melalui bimbingan dan pembelajaran.
Irsyadul ‘Ibad
Irsyadul ‘Ibad merupakan kitab lain yang menjadi bagian dari kajian di pesantren. Kitab ini dikenal dalam tradisi pembelajaran Islam sebagai salah satu rujukan yang memuat pembahasan keagamaan dan nasihat bagi kehidupan seorang Muslim.
Melalui pengajian, santri mempelajari materi secara bertahap dengan mengikuti penjelasan guru. Proses ini membantu santri mendalami pembahasan kitab dan memahami pelajaran sesuai dengan materi yang sedang dikaji.
Keempat kitab tersebut hanyalah beberapa di antara bahan pembelajaran yang dipelajari dalam tradisi keilmuan pesantren. Pengajian kitab berlangsung mengikuti program yang dijalankan, sehingga proses belajar tidak terbatas pada satu atau beberapa judul kitab saja.
Belajar Ilmu dengan Adab dan Kesungguhan
Dalam tradisi pesantren, menuntut ilmu tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak materi yang dapat dipelajari. Cara belajar, sikap terhadap guru, dan kesungguhan dalam mengikuti prosesnya juga menjadi bagian yang penting.
Melalui pengajian bandongan, santri dibiasakan untuk menyimak dengan baik, menjaga ketertiban, mencatat pelajaran, dan mengulang materi yang belum dipahami. Kebiasaan tersebut membutuhkan latihan dan konsistensi.
Pengajian rutin juga mengajarkan pentingnya istiqamah. Pemahaman terhadap ilmu tumbuh melalui proses yang berkelanjutan, bukan hanya dari satu pertemuan. Karena itu, kesabaran dalam belajar menjadi bekal penting bagi santri.
Pelajaran yang diperoleh dari kitab diharapkan dapat menjadi bahan untuk memperbaiki diri dan menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih baik. Dengan demikian, pengajian tidak hanya menjadi kegiatan membaca kitab, tetapi juga bagian dari proses pendidikan dan pembentukan sikap.
Menjaga Tradisi Keilmuan di Al Khidliriyah
Tradisi ngaji bandongan ba’da Ashar merupakan bagian dari kehidupan pendidikan di Pondok Pesantren Al Khidliriyah. Dengan bimbingan langsung guru kami, Al Habib KH. Muhammad Ibnu Abbas Alaydrus, para santri mengikuti pengajian kitab sebagai bagian dari ikhtiar memperdalam ilmu agama.
Kegiatan ini mempertemukan santri dengan tradisi pembelajaran yang menekankan kesungguhan, ketekunan, dan bimbingan guru. Kitab-kitab yang dikaji menjadi bagian dari proses belajar yang berlangsung secara bertahap dan berkesinambungan.
Menjaga tradisi pengajian berarti terus menyediakan ruang bagi santri untuk belajar, memperdalam pemahaman agama, dan mengambil pelajaran dari bimbingan guru. Melalui kegiatan yang dijalankan secara rutin, tradisi keilmuan pesantren terus menjadi bagian dari keseharian santri di Pondok Pesantren Al Khidliriyah.